Kamis, 01 Februari 2018 - 13:44:13 WIB
Lahirkan Generasi Berprestasi dari Tanah Terlarang
Author : Adek Rudi Hidayat
Kategori: Riau - [ 5525 ]


RAnews.tv-Waktu menunjukkan pukul 09.30 WIB. Rabu (26/1) pagi itu, matahari bersinar cukup cerah di Dusun Toro Jaya, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Pelalawan. Namun cahayanya tak menyengat. Ini membuat para murid nyaman bermain di lapangan sekolah mereka.

Mengenakan seragam batik, dengan bawahannya warna merah, puluhan murid kelas jauh SDN 003 Desa Lubuk Kembang Bunga, berlarian ke sana ke mari. Derai tawa lepas dari mulut mereka di atas tanah kuning yang cukup luas itu.

Lonceng pun berbunyi. Tanda habisnya waktu istirahat. Serentak para murid masuk ke kelas. Selayang pandang, ruangan tempat mereka belajar bak gubuk saja. Dindingnya dari papan. Kayunya masih alami. Dinding luar tak pernah dicat. Berwarna cokelat tua yang sudah mulai kusam. Tak ada jendela di sisi kiri dan kanannya. Hanya ada ventilasi di bagian atas dinding tempat sirkulasi udara.

Lantainya dari semen coran. Itu pun sudah berlubang-lubang. Tak ada plafon. Bagian atas ruangan tempat mereka menimba ilmu hanya berbatas atap seng. Panas memang, tapi para murid ini tak menghiraukannya. Barangkali mereka sudah terbiasa dengan ini.

Mereka tampak serius mendengarkan pelajaran yang disampaikan guru. Tiga murid duduk berderet di belakang satu meja, membuat bahu mereka bersentuhan. Tak ada risih sedikit pun terlihat dari sikap mereka, walaupun duduk berdempet-dempetan. Ruangan seluas 6x4 meter diisi 35 murid.

“Beginilah tempat anak-anak belajar,” kata Sindy Kusumawardhani SSos, salah seorang guru yang mengajar di sekolah itu.
Perempuan 30 tahun ini juga dipercaya sebagai koordinator di kelas jauh itu. Sindy menunjukkan semua ruang kelas yang ada. Selain tiga kelas semipermanen, ternyata ada enam kelas lagi yang dibangun permanen. Semuanya didirikan dengan swadaya. Sumbangan dari masyarakat, orangtua murid, dan tokoh di dusun itu. Dikerjakan dengan gotong royong. Tak ada yang dari pemerintah.

“Karena ini masuk dalam TNTN, makanya tak bisa pakai dana pemerintah. Paling bantuan dari pemerintah hanya untuk operasional. Seperti dana bantuan operasional sekolah (BOS, red),” kata Sindy.

Pakaian dan buku murid juga pernah dibantu Pemkab Pelalawan.

Satu ruangan kelas di antaranya, kata Sindy, digunakan sebagai ruangan kantor guru. Sisanya dijadikan ruangan belajar.

“Pustaka kami belum ada. Sebenarnya ini memang diperlukan sekali oleh murid. Kalau ruang kelas, kami perlu empat lagilah,” kata Sindy.

Sindy bercerita, sekolah ini awalnya dibangun pada 2007. Dia bersama beberapa rekannya yang memotori. Ide ini dimunculkan karena banyaknya anak yang tak bersekolah. Sebelum kelas jauh SDN 003 Desa Lubuk Kembang Bunga didirikan, hanya ada SDN induk yang jarak tempuhnya 4 jam dari Toro Jaya. Inilah yang membuat Sindy prihatin. Kalaupun ada sekolah yang bisa ditempuh 2 jam, itu pun sudah berada di Kabupaten Kuantan Singingi.

Ternyata ide itu disambut baik masyarakat. Tokoh adat di dusun itu menyumbangkan hartanya untuk membangun sekolah yang awalnya didirikan hanya tiga kelas semipermanen.  “Sekarang alhamdulillah sudah bertambah kelas kami,” katanya.

Namun, jumlah kelas yang ada masih belum mampu menampung semua murid. Saat ini saja ada 408 murid. Mulai dari kelas I hingga kelas VI. Wajar saja, penduduk di dusun ini sangat banyak. Belum lagi nanti murid baru yang masuk di tahun ajaran berikutnya.

“Saya rasa belum semua anak di dusun ini yang sekolah. Masih banyak lagi yang tidak sekolah,” jelasnya.

Untuk kelas I saja, kata dia, ada 65 murid. Sehingga, jumlah ini tak bisa ditampung dalam satu rombongan belajar (rombel). Pihak sekolah harus membaginya menjadi dua rombel. Begitu juga dengan kelas II, III, V dan VI. Hanya kelas IV yang terdapat satu rombel.

“Melihat kondisi ruangan, terpaksa kami bagi dua. Ada yang masuk pagi dan ada yang masuk siang,” ujarnya.

Kondisi jalan tanah di dusun itu kerap membuat murid yang tinggalnya jauh datang terlambat. Apalagi saat musim penghujan tiba. Jalan sulit dilalui. Kelas menjadi sepi. Sebagian murid tidak datang karena kondisi yang memang tidak memungkinkan. Sindy memahami hal itu.  “Kami pahami saja. Kalau ada yang terlambat atau absen, tak bisa kami marahi mereka,” ujarnya.

Tapi jangan salah, sekolah ini telah melahirkan delapan angkatan alumni. Alumni pertama pada 2008. “Sekarang alumni sini sudah ada yang kuliah,” ujarnya.

Dulu, kata Sindy, sejak 2008 hingga 2014 murid harus melaksanakan ujian di sekolah induk, yang harus menempuh perjalanan selama empat jam dengan kendaraan. Ini menjadi kesulitan. Sebab, guru, murid dan wali murid harus bertahan di sekolah itu selama ujian berlangsung. Tapi sekarang, sekolah ini sudah dipercaya melaksanakan ujian akhir sekolah sendiri.  “Tiga tahun ini sudah ujian di sini. Kepala sekolah meringankan kami,” sebutnya.

Meski berstatus kelas jauh dengan fasilitas yang serbaterbatas, hasil ujian akhir sekolah muridnya patut dibanggakan. Empat tahun terakhir, nilai murid jauh lebih menonjol dibanding murid yang ada di sekolah induk.  “Kalau prestasi, alhamdulillah. Empat tahun berturut-turut lebih unggul dari sekolah induk,” ujarnya.

Itu semua tak terlepas dari perjuangan para guru sekolah ini. Mereka betul-betul bertekad menciptakan generasi yang berprestasi. Selain Sindy, ada delapan guru lainnya yang juga mengajar di sekolah itu. Dari semua guru, tak satu pun yang berstatus aparatur sipil negara (ASN).

Enam orang pengajar, berstatus honor daerah yang SK-nya dikeluarkan Dinas Pendidikan Pelalawan. Salah satunya Sindy. Tiga lagi, berstatus guru komite. Saat ditanya berapa gaji yang diterima per bulannya, Sindy tak mau berkomentar banyak.

“Ya, cukuplah. Tak besar-besar kali. Lagian di sini anak-anak kami juga,” ujar Sindy sambil tersenyum.

Sedangkan guru komite paling besar gajinya Rp1 juta. Itu untuk yang berstatus sarjana. Kalau yang masih mahasiswa, jasanya dibayar Rp800 ribu. Latar belakang pendidikan pengajar di sekolah ini juga tak sinkron. Misalnya Sindy yang merupakan sarjana sosial. “Ya, siapa lagi yang mau mengajar di sini. Sekarang untung ada,” ujar dia.

SMPN Kelas Jauh
Selain SD, Dusun Toro Jaya juga memiliki SMP. Yaitu, kelas jauh SMPN 1 Ukui. Letaknya bersebelahan dengan kelas jauh SDN 003 Lubuk Kembang Bunga. Sekolah ini terdiri dari lima ruangan belajar dan satu kantor guru. Tiga ruangan belajar di antaranya, terbuat dari bangunan semipermanen. Dindingnya terbuat dari papan, lantainya semen coran, dan bagian atasnya langsung berbatas atap seng.

“Ruangannya, ya itulah sempit. Jumlah pelajar kami banyak. Pustaka tak ada. Jangankan pustaka, ruang kelas saja kurang. Musala juga tidak ada, sehingga kami tidak bisa salat berjamaah,” tutur Sugiyanto, guru koordinator kelas jauh SMPN 1 Ukui.

Saat ini, ada sebanyak 160 pelajar yang belajar di sekolah itu. Sama halnya dengan SDN 003 Lubuk Kembang Bunga, sekolah ini juga membagi rombel. Kelas VII dan VIII terbagi atas dua rombel. Sedangkan kelas IX hanya satu rombel.

Rata-rata pelajar di sekolah ini mendaftar tak menggunakan kartu keluarga (KK). Sebab, orangtua pelajar belum memilikinya. Padahal, KK menjadi syarat untuk penerimaan pelajar baru. Tapi apa boleh buat, pelajar harus mendapatkan pendidikan.  “Kami terima semuanya. Tak ada yang kami saring, walaupun tak lengkap syaratnya,” ujar Sugiyanto.

Dia bercerita, sekolah ini awalnya dibangun pada 2011 oleh seorang tokoh masyarakat sekitar yang mereka sebut sebagai datuk. Pembangunan lanjutan berasal dari swadaya masyarakat dan sumbangan orangtua pelajar.

“Ini dari sumbangan wali murid dan warga lainnya,” kata dia.

Pertama kali berdiri, hanya terdapat tiga ruangan belajar yang semipermanen. Selanjutnya, pada 2012 pembangunan dilanjutkan lagi menjadi lima ruangan belajar yang permanen.

“Mudah-mudahan ruangan belajar bisa bertambah lagi, supaya bisa menampung semua pelajar,” kata dia.

Selain Sugiyanto, ada enam orang lagi yang seprofesi dengannya di sekolah tersebut. Dua guru komite, satu tenaga nonpendidik, dan selebihnya honor dinas. Tidak ada ASN.  “Kami di sini terapkan disiplin yang ketat. Selain pelajaran formal, karakter mereka juga kami bina,” ujarnya.

Perjuangan para pengajar ini sudah mencetak tiga angkatan alumni. Para alumni ini melanjutkan pendidikan SMA. Ada di SMAN 1 Ukui, ada juga di SMA luar Pelalawan, seperti di Kuansing. Tak disangka-sangka, berkat kegigihan menuntut ilmu, para alumni mampu menorehkan prestasi di SMA tempat melanjutkan pendidikan. “Rata-rata mendapat juara di SMA. Setidaknya lima besar. Kami sangat bangga dengan anak-anak ini,” ujar Sugiyanto.

Serba keterbatasan fasilitas, dan meski berdiri di tanah larangan, tak menjadi penghalang untuk menggapai prestasi. “Kami doakan mereka semua sukses,” harapnya.

Putus Sekolah
RT 06/RW 01, berada jauh dari lokasi sekolah yang ada di Dusun Toro Jaya. Kalau menggunakan kendaraan, akan memakan waktu satu jam. Melewati jalan tanah yang terjal. Jalan berlubang, mendaki dan menuruni bukit. Berbahaya untuk dilewati kalau tak terbiasa.

Sehingga, kalau ada murid yang hendak pergi ke sekolah, harus diantarkan orangtuanya setiap hari. Pulang pun harus dijemput. Di satu sisi, orangtua harus bekerja untuk menafkahi keluarganya. Sehingga banyak yang lebih mementingkan kerja daripada mengantarkan anak ke sekolah.

Mendrofa misalnya. Pria 50 tahun ini memilih untuk menghentikan anaknya bersekolah. Kini anaknya putus sekolah. Kadang anaknya berada di rumah, kadang diajaknya ke kebun bekerja.

“Anak saya empat, tidak sekolah lagi. Mereka sampai kelas tiga SD saja. Kalau lanjut sekolah, mungkin sudah SMP. Karena tidak sanggup lagi mengantarkan ke sekolahnya,” ujar Mendrofa dengan mata berkaca-kaca.

Pilihan ini memang berat baginya. Sebelumnya dia sudah berusaha mengusulkan untuk membangun kelas jauh di RW itu. Namun, tak kunjung terealisasi.

“Kami mengajukan sekolah, tapi sangat susah. Kami di sini serba swadaya. Punya beras rasa punya emas,” ujarnya sambil menyeka mata.

Sambil menarik napas lebih dalam, dia melanjutkan, memang ada sekolah di RW itu. Namanya SDS K Tani dan PAUD Juliana. Sudah didirikan satu ruang kelas. Tapi belum bisa berjalan dengan maksimal. Sebab, tak ada tenaga pengajarnya.

Ketua RT 06, RW 01, Baharudin juga tak mengelak kalau warganya banyak yang putus sekolah. Di RT 06 ini saja, ada 120 KK. Rata-rata setiap KK, memiliki anak usia sekolah. Namun, dari hitungannya, ada sekitar 70 anak yang putus sekolah.

“Inilah yang menjadi persoalan bagi kami. Kelas jauh, letaknya juga jauh dari RT kami. Kalau membangun sendiri, ya kemampuan kami juga terbatas,” sebut lelaki yang akrab disapa Udin ini.

Udin berharap betul, kampung mereka disamakan dengan daerah-daerah lainnya. Setidaknya, fasilitas mendasar diadakan. Seperti sekolah, pelayanan kesehatan, dan fasilitas lainnya.

Tak Ada Internet
Internet menjadi salah satu media tempat belajar bagi para siswa di zaman serbamodern saat ini. Tak hanya bagi siswa, internet sudah menjadi keperluan orang banyak. Tapi itu tak bisa untuk warga Dusun Toro Jaya. Di sini, jangankan untuk internet, sambungan telepon atau sekadar mengirim pesan singkat saja susah.

Ya, hampir seluruh wilayah dusun itu tak ada jaringan telekomunikasi. Namun, ada beberapa lokasi yang bisa mendapatkan sinyal seluler. Salah satunya di Bukit Cinta. Berada di dataran tinggi, bukit ini cukup dekat dengan perkampungan warga. Mudah untuk mecapai lokasi itu.

Warga selalu mendatangi bukit ini di malam hari. Mereka sengaja datang ke sini untuk mengecek apakah ada pesan masuk ke ponsel mereka. Atau jika ada keperluan penting untuk menghubungi kawan atau saudara mereka di luar dusun, mereka datang ke sini untuk menelepon.

Selasa (23/1) petang, terlihat beberapa warga sibuk dengan ponsel pintarnya. Sekitar lima orang. Rata-rata remaja. Melakukan browsing, dan ada juga yang sedang membuka facebook. Mereka duduk beralaskan daun di tanah bukit itu. Berteduh di bawah pohon sawit dan karet yang tumbuh rindang.

Di salah satu sudut bukit itu, juga terlihat salah seorang pria sedang sibuk menelepon. Dia tampak serius berbicara dengan orang dalam sambungan teleponnya. Barangkali, ada kabar penting yang dibicarakannya. Lama sambungan telepon itu digunakan. Dia puas-puaskan betul pembicaraannya selagi ada sinyal.

Jarak bukit itu, tak begitu jauh dari rumah Kepala Dusun Toro Jaya, Suryadi. Dia sering ke bukit itu. Wajar saja, sebagai seorang pemimpin dusun, dia selalu berkomunikasi dengan atasannya yakni kepala desa atau camat. Selasa malam itu, dia juga mendatangi bukit itu.

“Saya tinggal di sini sebentar. Saya mau menelepon orang desa,” kata Suryadi kepada Riau Pos yang saat itu berada di rumahnya. Beberapa saat setelah menelepon, Suryadi kembali ke rumah. “Beginilah di sini. Untuk menelepon saja, harus pergi ke bukit itu dulu supaya dapat sinyal,” ujarnya.

Saat ini, katanya, warga sangat memerlukan jaringan telekomunikasi. Dia berharap betul, adanya perusahaan telekomunikasi seluler yang mau mendirikan tower di dusun mereka. Sehingga, warga tak susah payah lagi untuk ke Bukit Cinta hanya untuk mencari sinyal. Tak hanya jaringan telekomunikasi, sambungan listrik juga belum masuk ke dusun itu. Untuk penerangan, warga menggunakan genset sebagai pembangkit listrik. “Setiap rumah pakai genset. Tapi dipakai saat malam hari saja. Ini supaya hemat bahan bakar,” ujar Suryadi.

Sumber: Riaupos.co


    0 Komentar :



    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)