Minggu, 07 Januari 2018 - 07:39:35 WIB
Kelompok Bersenjata Rohingya Serang Truk Militer Myanmar
Author : M. Arpoda Nafiz Tampubolon
Kategori: Internasional - [ 3997 ]


JAKARTA,RANEWS.TV- Setidaknya lima orang terluka setelah kelompok bersenjata Pasukan Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA) menyerang truk militer Myanmar di Rakhine pada Sabtu (6/1).

"Satu kendaraan diserang oleh 20 orang kelompok bersenjata dari gunung menggunakan senjata buatan tangan dan pistol," ujar seorang pejabat militer Myanmar.

Tak lama setelah itu, ARSA pun mengklaim bertanggung jawab atas serangan pada akhir pekan itu.
"Ya, ARSA bertanggung jawab atas pergerakan militer itu," ujar juru bicara ARSA kepada Reuters.Sejumlah warga di sekitar lokasi kejadian mengatakan kepada Frontier Myanmar bahwa mereka mendengar beberapa tembakan saat insiden terjadi.

Salah satu kantor berita pemerintah Myanmar juga melaporkan, baku tembak terus berlangsung setelah insiden tersebut.

Serangan ini terjadi di tengah ketegangan situasi di Myanmar pasca-bentrokan antara militer dan ARSA pada Agustus tahun lalu.

Bentrokan itu dipicu oleh serangan ARSA ke sejumlah pos polisi dan satu pangkalan militer di Rakhine.ARSA mengklaim, mereka menjalankan aksinya demi membela hak-hak Rohingya yang selama ini tertindas di Myanmar. Namun, Myanmar menyebut mereka sebagai teroris.

Militer pun melakukan operasi untuk membersihkan Rakhine dari ARSA. Namun, menurut laporan berbagai organisasi internasional, militer Myanmar tak hanya membidik ARSA, tapi juga membunuh sipil Rohingya.

Kekerasan ini sudah merenggut ribuan nyawa dan membuat 500 ribu orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.Myanmar mengklaim, kini situasi di Rakhine sudah pulih dan berjanji akan menerima kembali Rohingya yang ingin kembali ke sana, dengan sejumlah syarat.

Banyak orang Rohingya ragu dapat kembali ke Rakhine karena menganggap persyaratan dari Myanmar tidak masuk akal, seperti dokumen identitas resmi mereka.

Selama ini, Rohingya tinggal di Myanmar tanpa pengakuan dari pemerintah setempat. Meski sudah berpuluh tahun tinggal di Rakhine, mereka tidak diakui sebagai warga negara sehingga kerap menjadi sasaran diskriminasi.


Sumber: Cnnindonesia.com


    0 Komentar :



    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)