Rabu, 06 Desember 2017 - 10:50:51 WIB
fee Based Income Berpotensi Turun Setelah Bank Indonesia (BI)
Author : Adek Rudi Hidayat
Kategori: Nasional - [ 3997 ]


JAKARTA,RAnews.tv- Perbankan tak gentar menghadapi risiko turunnya pendapatan nonbunga, terutama yang berbasis fee (fee based income). Fee based income memang berpotensi turun setelah Bank Indonesia (BI) menerapkan sistem Gerbang Pembayaran Nasional (GPN).

 Penurunan itu disebabkan beberapa hal, antara lain biaya transaksi antarbank (off us), biaya administrasi pemeliharaan kartu debit serta merchant discount rate (MDR) yang lebih murah.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Suprajarto mengatakan, penurunan pendapatan dari fee based income hanya bersifat sementara. Sebab dalam jangka panjang biaya administrasi yang murah akan lebih menarik bagi masyarakat untuk bertransaksi nontunai. Hal itu membuat kampanye Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) lebih mudah dilakukan.

Di samping itu, investasi yang dikeluarkan oleh perbankan untuk pengadaan mesin automated teller machine (ATM) dan electronic data capture (EDC) juga akan berkurang. Biaya kerja sama dengan perusahaan principal luar negeri yang memproses transaksi antar bank pun juga akan berkurang, karena saat ini pemrosesan transaksi antarbank dilakukan oleh perusahaan switching dalam negeri

 Penurunan investasi tersebut sejalan dengan penurunan fee based income yang akan terjadi dalam jangka pendek.

“Dengan GPN, bank bisa melakukan efisiensi di biaya, jadi tidak terlalu banyak membayar ke principal luar negeri,” ujar Supra, Selasa (5/12). Hingga kuartal III lalu, BRI mencatatkan fee based income sebesar Rp7,4 triliun atau tumbuh 12,7 persen secara year on year

Direktur PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Adi Setianto menuturkan, bank lebih memikirkan efisiensi yang ditimbulkan ketimbang penurunan fee based income. “Karena, MDR turun (dari 2-3 persen, red) menjadi 1 persen. Jadi semestinya bank juga mengikuti dengan pengeluaran yang lebih efisien,” katanya.

Per kuartal III lalu fee based income bank spesialis perumahan itu tercatat sebesar Rp1,17 triliun, naik 38,23 persen (yoy).

Dengan adanya GPN, perbankan menggunakan sistem berbagi (sharing) investasi, baik untuk mesin ATM maupun EDC. Jika selama ini satu bank biasanya membeli satu mesin ATM, kini mesin tersebut dibeli secara patungan oleh banyak bank. Hal serupa juga akan terjadi pada mesin EDC, sehingga satu kasir merchant tak perlu lagi menyediakan banyak mesin EDC.

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gatot Trihargo mengatakan, hal tersebut sudah dimulai oleh bank-bank BUMN yang tergabung dalam investasi ATM Link.

“Itu sudah mengurangi beban pengeluaran bank juga. Kalau pun fee based income turun dari sisi jumlah, tapi skala transaksi masyarakat akan terus bertambah nanti, akan lebih banyak orang yang transaksi nontunai sehingga bank ya tetap untung,” urainya.

 Kepala Pusat Program Transformasi BI Onny Widjanarko menambahkan, potensi turunnya fee based income cukup besar. “Kira-kira bisa lebih dari Rp6,5 triliun. Tapi kan masih banyak sumber yang bisa digali oleh bank, sehingga pendapatan itu tidak membebani nasabah bank maupun merchant (toko) yang menyediakan mesin EDC,” ujarnya.

Sumber: Riaupos.co


    0 Komentar :



    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)